KELAS XI-8
Kelompok 4 : Tiara, Shopi, Siti, Zahra, Rasya, Refal
Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Pancasila telah ditetapkan sebagai ideologi, dasar negara, dan pandangan hidup bangsa dan negara. Nilai-nilai Pancasila disarikan dari nilai, budaya, dan tradisi bangsa Indonesia. Karena itu, tantangannya sekarang ialah bagaimana mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan global. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan global, seperti peperangan, krisis lingkungan hidup, kesehatan, individualisme, dan perubahan iklim.
Tujuan Umum
Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk merefleksikan, mendokumentasikan, dan mengomunikasikan praktik penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari secara kreatif dan kontekstual melalui media video.
Melalui tugas pembuatan video Saya Ber-Pancasila, peserta didik diharapkan mampu:
Mengidentifikasi nilai-nilai Pancasila yang tercermin dalam kehidupan pribadi, sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Menunjukkan sikap dan perilaku ber-Pancasila melalui contoh nyata (praktik baik) yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab.
Menganalisis keterkaitan antara nilai Pancasila dengan permasalahan sosial di lingkungan sekitar serta upaya penyelesaiannya.
Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif terhadap peran dirinya sebagai warga negara.
Mengasah keterampilan komunikasi dan literasi digital melalui penyusunan naskah, pengambilan gambar, dan penyuntingan video secara etis.
Menumbuhkan rasa percaya diri, kreativitas, dan kolaborasi (jika dikerjakan berkelompok) dalam menyampaikan pesan kebangsaan.
Menanamkan kesadaran berpartisipasi aktif sebagai pelajar yang menjunjung nilai persatuan, keadilan, dan kemanusiaan sesuai Profil Pelajar Pancasila.
Berikut tugas Saya Ber-Pancasila yang telah dilaksanakan dan dirangkum dalam sebuah video oleh siswa-siswi kelas XII MAN 2 Ciamis :
XII-1
Kelompok 1 : Aditya, Ahmad, Azrya, Bela, Devi, Dhaifina
Kelompok 2 : Euis, Fanny, Fauzan, Felya, Isti, Johan,
Kelompok 3 : Jihan, Kirana, Kirani, Maulana Rafi, Fathan, Mutiara.
Kelompok 4 : Nailal Husna, Najwa, Naylla Desna, Rahma, Rani, Riris
Kelompok 5 : Rita putri, Sendi, Sylva, Sri, Zahran, Zahwa, Zamzam
XII-2
Kelompok 2 : Gina, Hanna, Intan, Khansa, Khoirunisa, M. Hifdi, M. Adilla
Kelompok 3 : M. Ramdhan, M. Naufal, Nouro, Nuri, Pitriani, Putri.M, Zahra R
Kelompok 4 : Revina, Reza, Rizky, Saskia, Siti, Sri, Ziddane
Kelompok 5 : Zahra rose, Tias, Reinanda, Salsabila, Tubagus mevlana, Rohman, Rohmat
XII-4
Kelompok 1 : Alya, Anggia, Arham, Arini, Clarissya, Dzul Fikri
Kelompok 2 : Depi Aulia, Dinda, Fahrezy, Fannysha, Friska, Hibran
Kelompok 3 : Rijal, Fazry, Irma, Kirana, Keyzha, Indri
Kelompok 4 : N wifa, Nayla, Raisya, M. khairul, M. Irsyad, M. Syahrian
Kelompok 5 : Yuniarti, Reena, Sri Ekawa, Yogi, Rifki
XII-5
Kelompok 1 : Ade AHmad, Abdul Azis, Asmira, Devi, Fadila
Kelompok 2 : Afrizal, Faisal, Fatimah, Gladista, Hilma Halimatul Sadiah
Kelompok 5 : Parda, Reva Aulia, Ridwan, Riffa Silmy, Rudi Ramli, Salsa Cahya
Kelompok 4 : M. Azhar Zulfan, Nabila, Naurani, Nadine, Rafly, Riana Silvina
Kelompok 6 : Salsa Meyla, Salwa, Silfy Nurlatiefah, Silfi Nuramadani, Sofi, Suci
XII-6
Kelompok 5 : Santi,Shelly,Siti,Ulfa,Vina
Kelompok 1 : Akmal, Alya Sofi, Amanda, Aura azmaly, Aura salsaila, Dendi
Kelompok 3 : Fildzah, Firda Zahrah, Melani Salsabila, Meli Amelia , M. Fachri
Kelompok 4 : Nadira, Nafisha, Nuri, Salma, Revan, Sahrun
Kelas XII-7
Kelompok 4 : Keysya, Naila, Salma, Nisa
Kelompok 3 : Dewi, Rismawati, Hasna, Riva
Kelompok 1 : Agung, Alifa, Dinda, Elsa
Kelompok 2 : Alvi, Farel, Fitri, Kirana, Qiesha, dan Rifana
Kelompok 5 : Rismayanti, Sera, Sintiya, Syifa, Windi
XII-9
Kelompok 2 : Caila, Dara Dinanti, Dela, Dian, Erwina, Fariz Ahmad H
Kelompok 3 : Ika, Julian, Kanaya, Kharisma, Gun Gun, Fikri Sefta
Kelompok 4 : Neng Anisa, Nindy, Niva, Raditya Octora, Rafli
Kelompok 1 : Ade Ferdi, Acep, Ana, Anggi, Anggun
Kelompok 5 : Salsabila, Al Aisya, Sepriadi, Rizki
Kelompok 6 : Silvia, Surya, Tanria, Widiyan, Windi
XII-10
Kelompok 1 : Aditya, Adit, Ari, Amalia, Agustina, Bunga
Kelompok 2 : Fandu, Azhar, Azhara, Dini, Erina, Euis
Kelompok 3 : Lulu, Mala, Irma, Fathir, Irfan, Faris
Kelompok 4 : Rifa, Fauzi, Ridwan, Nabilah, Shilfa, Siti Hanna
Kelompok 5 : Varda, Wafa, Zahra, Wiwin, Syahrul, Sidqi
Memahami Hak dan Kewajiban Warga Negara
Hak dan kewajiban merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Hak adalah sesuatu yang seharusnya diterima atau didapatkan oleh setiap orang, sementara kewajiban adalah hal-hal yang harus dilakukan. Keseimbangan antara hak dan kewajiban adalah kunci terciptanya kehidupan bernegara yang harmonis.
Pelanggaran Hak: Terjadi ketika seseorang atau institusi tidak memenuhi atau menghormati hak orang lain. Contohnya termasuk penyebaran berita bohong (hoaks) yang melanggar hak untuk mendapatkan informasi yang benar, atau tindakan diskriminasi yang melanggar hak untuk diperlakukan sama.
Pengingkaran Kewajiban: Terjadi saat seseorang tidak melaksanakan tanggung jawabnya sebagai warga negara. Contohnya termasuk tidak membayar pajak, tidak mematuhi peraturan lalu lintas, atau tidak berpartisipasi dalam pemilihan umum.
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan terjadinya pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban, antara lain:
Sikap Egois atau Mementingkan Diri Sendiri: Individu hanya memikirkan haknya tanpa memedulikan kewajibannya terhadap orang lain atau negara.
Rendahnya Kesadaran Hukum: Banyak orang yang belum sepenuhnya memahami pentingnya hukum dan peraturan dalam menjaga ketertiban sosial.
Adanya Ketidaktegasan dari Aparat Penegak Hukum: Penegakan hukum yang lemah bisa memicu masyarakat untuk tidak mematuhi aturan.
Penyalahgunaan Kekuasaan: Pejabat atau pihak yang berkuasa menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi, yang sering kali berdampak pada pelanggaran hak warga negara.
Kurangnya Toleransi: Sikap tidak menghargai perbedaan bisa memicu diskriminasi dan pelanggaran hak-hak minoritas.
Menciptakan masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya memerlukan pendekatan yang komprehensif. Berikut adalah beberapa gagasan solutif yang bisa diterapkan:
Pendidikan memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter.
Integrasi dalam Kurikulum: Materi tentang Pancasila, hak asasi manusia, dan kewarganegaraan harus diajarkan secara mendalam di sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas.
Kampanye Publik: Pemerintah dan organisasi masyarakat dapat secara rutin mengadakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya hak dan kewajiban. Kampanye ini bisa diselenggarakan melalui media sosial, seminar, atau acara komunitas.
Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu.
Pembaruan Regulasi: Memperbaiki dan menyempurnakan peraturan hukum agar lebih jelas, adil, dan tidak multitafsir.
Optimalisasi Peran Aparat: Memberikan pelatihan kepada aparat penegak hukum untuk meningkatkan profesionalisme, integritas, dan menjamin mereka bekerja sesuai prosedur. Hukuman yang tegas bagi oknum yang menyalahgunakan wewenang juga sangat penting.
Warga negara harus menjadi bagian dari solusi, bukan hanya penonton.
Mekanisme Pengaduan yang Mudah: Pemerintah perlu menyediakan saluran pengaduan yang mudah diakses dan responsif bagi masyarakat yang menjadi korban pelanggaran hak.
Kolaborasi Multipihak: Mendorong kerja sama antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan komunitas untuk bersama-sama mengawasi dan melaporkan kasus-kasus pelanggaran.
Untuk mengatasi diskriminasi, diperlukan upaya untuk membangun masyarakat yang lebih toleran.
Dialog Antar-Kelompok: Mengadakan forum dialog antar-kelompok masyarakat dengan latar belakang berbeda (suku, agama, ras) untuk saling memahami dan menghargai perbedaan.
Kebijakan Afirmatif: Menerapkan kebijakan yang pro-keadilan sosial untuk mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial yang sering menjadi akar masalah pelanggaran hak.
Konsep Utama
Hubungan Hak dan Kewajiban: Keduanya adalah dua sisi yang saling berkaitan dan harus seimbang. Pelanggaran hak sering kali terjadi karena pengingkaran kewajiban, dan sebaliknya.
Penyebab Masalah: Beberapa faktor utama termasuk sikap egois, rendahnya kesadaran hukum, ketidaktegasan aparat, penyalahgunaan kekuasaan, dan kurangnya toleransi.
Gagasan Solutif:
Pendidikan Karakter & Kesadaran Hukum: Mengedukasi masyarakat sejak dini tentang pentingnya hukum dan nilai-nilai Pancasila.
Penegakan Hukum yang Efektif: Memastikan aparat bekerja dengan profesionalisme, integritas, dan memberikan sanksi yang tegas tanpa memandang bulu.
Partisipasi Aktif Masyarakat: Mendorong warga negara untuk terlibat dalam pengawasan dan pelaporan pelanggaran.
Toleransi & Keadilan Sosial: Membangun dialog antar-kelompok untuk mengurangi diskriminasi.
Daftar Kosakata
Hak: Sesuatu yang seharusnya diterima atau didapatkan oleh setiap orang.
Kewajiban: Hal-hal yang harus dilakukan atau tanggung jawab yang harus dipenuhi.
Hoaks: Berita atau informasi palsu yang sengaja disebarkan untuk menyesatkan.
Diskriminasi: Sikap atau perlakuan tidak adil terhadap individu atau kelompok berdasarkan perbedaan suku, agama, ras, atau lainnya.
Egois: Sifat mementingkan diri sendiri tanpa peduli dengan hak atau kepentingan orang lain.
Keadilan Sosial: Keadilan dalam pembagian hak dan kewajiban, serta kesempatan, yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat
UPAYA PENANGANAN KASUS DAN PENINGKATAN KESADARAN WARGA NEGARA
Jawablah pertanyaan refleksi ini pada kolom komentar!
Pertanyaan Refleksi:
1. Apa
peran yang paling saya kuasai dalam kelompok ini? Mengapa?
2. Apa
tantangan terbesar yang saya hadapi saat membuat poster ini dan bagaimana saya
mengatasinya?
3. Setelah
menyelesaikan proyek ini, apa satu hal baru yang paling penting yang saya
pelajari tentang peran warga negara?
4. Jika
saya bisa mengulang proyek ini, apa yang akan saya lakukan?
Kasus Pelanggaran Hak dan Kasus Pengingkaran Kewajiban Warga Negara
Kelas XII-6
Menjadi
Teladan dalam Pembelajaran : Membangun Budaya Kolaboratif dan Karakter Sosial-Emosional
Siswa Melalui Keteladanan Guru
Deskripsi
Aksi nyata ini merupakan upaya reflektif dan transformatif yang dilakukan oleh guru untuk menjadi teladan dalam proses pembelajaran Pendidikan Pancasila di kelas XI , dengan tujuan membentuk karakter sosial-emosional siswa sekaligus membangun budaya kolaboratif di lingkungan sekolah. Keteladanan guru diwujudkan melalui sikap konsisten dalam menunjukkan nilai-nilai seperti empati, disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama dalam setiap interaksi, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Dalam pelaksanaan aksi ini, guru mengintegrasikan nilai-nilai sosial-emosional ke dalam pembelajaran melalui metode yang berpusat pada siswa, seperti pembelajaran berbasis proyek kolaboratif, diskusi reflektif, serta kegiatan kelas yang memupuk kerja tim dan rasa peduli. Guru juga aktif membangun komunikasi yang positif dengan siswa, mendengarkan aspirasi mereka, serta memberikan ruang aman untuk berekspresi dan belajar dari kesalahan.
Selain itu, aksi nyata ini
melibatkan kolaborasi dengan rekan sejawat untuk merancang pembelajaran yang
responsif terhadap kebutuhan sosial-emosional siswa. Guru juga menjadi
fasilitator dalam menumbuhkan budaya positif di sekolah, seperti membiasakan
salam, senyum, dan sapa; menciptakan kesepakatan kelas bersama serta menjadi model dalam
menyelesaikan konflik dengan cara damai.
Melalui aksi ini, diharapkan peserta didik tidak hanya mengalami pembelajaran kognitif, tetapi juga pembelajaran kehidupan yang nyata, yang diteladankan langsung oleh gurunya setiap hari. Hal ini akan memperkuat pembentukan karakter siswa, menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, serta memperkuat iklim kolaboratif yang mendukung tumbuh kembang peserta didik secara menyeluruh.
Ruang Kolaborasi
Saya menata ruang
kelas sebagai ruang aman untuk berpendapat, dengan menetapkan aturan kelas
bersama-sama. Saya menunjukkan sikap terbuka, menghargai masukan, dan meminta
maaf bila melakukan kesalahan di depan siswa, sebagai bentuk keteladanan.
Demonstrasi Kontekstual
Saat membahas
materi Pendidikan Pancasila tentang nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila, saya tidak hanya memberi tugas, tetapi juga mengajak siswa untuk
melaksanakan ibadah bersama-sama di mesjid sebagai bentuk pengamalan sila
pertama. Selain itu saya juga mengajak siswa bersama-sama untuk selalu membantu
teman-temannya yang kesulitan, membersihkan kelas dan lingkungan secara
bersama-sama, dan saya juga berusaha untuk selalu menghargai setiap hasil karya
yang dibuat oleh siswa. Dan tentunya tidak lupa saya selalu berusaha memberikan
contoh untuk senantiasa berbicara yang baik sehingga siswa dapat meniru dan
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Bapak Ibu Guru
1. Apakah saya sebagai guru sudah menjadi teladan yang baik bagi siswa? Jelaskan!
2. Apa tantangan bagi guru untuk menjadi contoh atau teladan khususnya dalam hal sosial emosional?
Terima Kasih